Fakta 4 Mitos Menyusui yang Perlu Ibu Diketahui

Fakta 4 Mitos Menyusui yang Perlu Ibu Diketahui



Ini dia fakta di balik empat mitos terpopuler seputar menyusui. Simak yuk !

Sejak lama, beragam penelitian membuktikan, ASI merupakan sumber nutrisi terbaik untuk menunjang tumbuh kembang bayi di masa-masa awal kehidupannya. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun merekomendasikan pemberian ASI secara eksklusif untuk si Kecil hingga berusia enam bulan. Tak heran, hal ini mendorong tiap Ibu bersemangat memberikan ASI agar bayi mungilnya tumbuh optimal. Sayangnya, beberapa mitos menyusui yang berkembang di masyarakat terdengar cukup mengganggu serta sering membuat Mum dan para busui (ibu menyusui) khawatir.

Nah, agar bisa tetap tenang saat menyusui si Kecil, ayo ketahui fakta seputar empat mitos menyusui paling populer lewat ulasan berikut ini!

Mitos #1: UkuranPayudara Kecil = ASI Sedikit

Mengingat nutrisi dalam ASI memiliki sejuta manfaat untuk mengoptimalkan tumbuh kembang bayi, wajar bila Mum dan para busui menginginkan produksi ASI melimpah untuk mencukupi kebutuhan si Kecil. Namun, umumnya masyarakat cenderung mengaitkan kuantitas ASI dengan ukuran payudara. Payudara berukuran besar dianggap mampu menghasilkan ASI yang melimpah, begitu pun sebaliknya. Padahal, ukuran payudara tiap busui berbeda dan tidak semua busui memiliki payudara besar.

Faktanya:

Judith Lauwers, seorang juru bicara International Lactation Consultant Association mengungkapkan, ukuran payudara tak ada kaitannya dengan kemampuan payudara memproduksi ASI.

Menurut keterangan Judith, jaringan payudara yang bertanggung jawab menghasilkan ASI berbeda dengan jaringan lemak payudara. Payudara memiliki 15-20 titik yang bertugas khusus untuk menghasilkan ASI. Titik-titik ini dikenal dengan istilah lobus. Setiap lobus memiliki struktur-struktur yang lebih kecil bernama lobulus. Dari lobulus inilah ASI keluar, lalu bergerak melalui saluran kecil yang saling terkait (duktulus), dan keluar melalui puting.



Kabar baiknya, meski ukurannya terlihat berbeda-beda, payudara tiap wanita memiliki jumlah lobus dan lobulus yang hampir sama. Dengan kata lain, kuantitas ASI yang dihasilkan tiap busui sebenarnya hampir seragam, Mum.

Mitos #2: Busui Perlu Menghindari Makanan Bercita Rasa Tajam

Beberapa masyarakat beranggapan, busui perlu menghindari konsumsi makanan bercita rasa tajam, misalnya makanan pedas. Alasannya, cita rasa makanan yang dikonsumsi busui bisa memengaruhi rasa ASI, sehingga berpengaruh pada kondisi kesehatan si Kecil dan sistem pencernaannya.

Faktanya:

Ternyata, mitos ini tak sepenuhnya salah, Mum. Kristy King, seorang pakar diet di Texas Children’s Hospital sekaligus juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics menjelaskan, cita rasa makanan yang dikonsumsi busui memang bisa meninggalkan “jejak” berupa rasa pada ASI. Contohnya, bila di masa menyusui ibu mengonsumsi makanan pedas, unsur rasa pedas akan terbawa oleh ASI, sehingga mungkin saja memengaruhi kesehatan sistem pencernaan bayinya.

Meski begitu, bukan berarti Mum tidak boleh mengonsumsi makanan bercita rasa tajam sama sekali selama masa menyusui. Mum tetap bisa mengonsumsi makanan bercita rasa tajam dalam porsi tidak berlebihan, sambil memerhatikan reaksi yang ditunjukkan si Kecil. Selama ia tidak memperlihatkan gejala seperti diare atau alergi, berarti tak ada yang perlu dikhawatirkan. Lagipula, di sisi lain, mengonsumsi makanan bercita rasa tajam sebenarnya membantu melatih indra pengecap si Kecil, Mum. Kelak, ia akan mengenal rasa tersebut ketika mulai mengonsumsi makanan padat.

Mitos #3: Menyusui Harus Dilakukan Tiap Dua Jam Sekali

Mitos selanjutnya terkait waktu yang tepat untuk memberikan ASI. Beberapa masyarakat meyakini, menyusui si Kecil harus dilakukan secara teratur, tepatnya setiap dua jam sekali, tidak boleh kurang atau lebih. Bila aturan ini tidak dipatuhi, kebutuhan nutrisi harian si Kecil dipercaya tak akan terpenuhi.

Faktanya:

dr. Hikmah Kurniasari, MKM, CIMI, seorang dokter sekaligus konselor laktasi di Sentra Laktasi Indonesia menjelaskan, secara teori, bayi memang akan menyusu sebanyak 8-12 kali dalam sehari semalam. Dengan kata lain, si Kecil akan minta disusui tiap 2 -3 jam. Akan tetapi, hal ini tidak menjadi patokan khusus, Mum. Sebagai orang tua, Mum perlu mulai belajar mengenali sinyal lapar dari si Kecil.



Misalnya, bila satu jam setelah disusui si Kecil terlihat resah dan rewel, bisa jadi ia mulai lapar. Oleh sebab itu, Mum dianjurkan untuk menempelkan puting payudara Mum ke dagu mungil si Kecil. Bila si Kecil lapar, ia akan segera memasukkan puting Mum ke mulutnya. Bila ia tidak lapar, ia akan mengabaikan puting Mum. Dengan memberikan ASI sesuai “sinyal” si Kecil, kebutuhan ASI si Kecil pun bisa terpenuhi dengan baik.

Mitos #4: Sebaiknya Tidak Menyusui Saat Sakit

Terakhir, ada pula mitos yang menyebutkan bahwa Mum sebaiknya tidak menyusui si Kecil ketika sakit. Alasannya, khawatir si Kecil tertular penyakit dari Mum.

Faktanya:

Kondisi tubuh yang kurang fit semestinya tidak menghalangi Mum untuk menyusui si Kecil. Aktivitas ini masih bisa dilakukan selama Mum masih bisa menyusui dan tidak perlu mengonsumsi obat yang memengaruhi kualitas ASI. Mum tak perlu khawatir menulari si Kecil karena tubuh Mum sedang memproduksi antibodi berkali lipat lebih banyak dari biasanya. Nah, antibodi ini dapat tersalurkan ke tubuh si Kecil melalui ASI, sehingga kekebalan tubuh bayi kesayangan Mum pun meningkat.

Nah, itulah fakta dari empat mitos menyusui terpopuler, Mum. Semoga dengan mengetahui info ini, Mum bisa menyusui si Kecil dengan lebih tenang, ya.


Supaya kualitas dan kuantitas ASI yang Mum hasilkan senantiasa baik, pastikan kebutuhan nutrisi harian Mum tercukupi, sehingga si Kecil mendapat asupan nutrisi alami optimal agar kuat dari dalam. Salah satu caranya yaitu rutin mengonsumsi susu kehamilan dan menyusui Frisomum Gold. Frisomum Gold membantu Mum memenuhi kebutuhan nutrisi ibu menyusui, sehingga kualitas dan kuantitas ASI yang dihasilkan semakin optimal.
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment